Perang Badar baru saja berakhir, pasukan Muslim yang hanya
berjumlah kurang lebih 313 orang berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy yang
saat itu berjumlah lebih tiga kali lipatnya. Di antara korban perang yang meninggal adalah
musuh Nabi, yaitu Abu Jahal. Sesaat setelah perang usai, Nabi memerintahkan kepada
para sahabat supaya korban-korban perang dari kafir Quraisy dikuburkan dalam
satu liang.
![]() |
Apakah Mayit Bisa Mendengar?
|
Suatu malam, Rasulullah mendatangi liang kuburan orang-orang
kafir tersebut, dan beliau menyebut satu persatu dari nama-
nama kafir Quraisy
yang meninggal itu, “Wahai Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Saibah bin Rabiah, dst ...,
“ “Apakah kalian sudah menemukan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian? Karena
kami sungguh telah mendapati apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada kami.”
Melihat perbuatan tersebut, sahabat Umar bin Khattab bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, mengapa engkau berbicara kepada orang yang sudah
meninggal? Toh mereka sudah meninggal, tidak akan bisa mendengar?”. Nabi menjawab,
“Wahai Umar, sesungguhnya (orang-orang yang sudah meninggal) lebih mendengar
daripada engkau, dan kata-kataku tadi akan membuat mereka menyesal.”
--- o ---
Ada seorang sahabat meninggal dunia, dan Rasulullah dimintai
tolong untuk men-sholati jenazah tersebut. Ketika hendak men-sholati, tiba-tiba
Nabi pamit pulang dan tidak jadi men-sholati jenazah tersebut. Para sahabat
yang hadir di situ bertanya-tanya ada apa gerangan, apa yang menyebabkan Nabi
berbuat demikian? Beliau sudah bersedia datang , tapi tidak mau mensholati?
Akhirnya ada seorang sahabat yang
mengungkapkan, bahwa sahabat yang meninggal itu masih mempunyai tanggungan
hutang dan belum terbayar. Kemudian sang sahabat si mayit tersebut dengan
sukarela bersedia membayar hutang-hutang itu sampai lunas. Nabi bersabda, “Sekarang
engkau telah mendinginkan kulit si mayit.”
--- o ---
Suatu ketika Nabi berkumpul bersama para sahabat, dan kebetulan
ada rombongan jenazah lewat. Lalu Nabi berdiri dan berkata, “Wajib!”. Kemudian
Nabi duduk kembali.
Sesaat kemudian, ada lagi rombongan jenazah yang lewat. Melihat
rombongan itu, Nabi tetap diam dan diikuti para sahabat. “Wajib!”, kata Nabi.
Para sahabat bertanya kepada Nabi, tadi ada dua jenazah lalu
engkau berkata dan mendoakan keduanya dengan doa yang sama?
Dijawab oleh Nabi, “Yang pertama aku doakan ‘wajib’,
maksudnya wajib masuk surga. Dan yang kedua juga aku doakan wajib, tapi wajib
masuk neraka”. Tidak ada penjelasan lebih lanjut dari beliau kenapa yang
pertama wajib masuk surga dan yang kedua masuk neraka.
--- o ---
Apakah Mayit Bisa Mendengar?
Seorang perempuan menghadap kepada Rasulullah, “Wahai
Rasulullah, aku mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua dan tidak bisa
berbicara dengan jelas. Ketika ibu akan meninggal dunia, aku dipanggil oleh
beliau dan sepertinya akan mengatakan sesuatu (wasiat). Tapi tidak kesampaian
karena ajal sudah menjemput. Menurut dugaanku, beliau akan berpesan (berwasiat)
untuk menyedekahkan harta milik ibu kepada kaum muslimin.”
Perempuan tadi melanjutkan, “Seandainya sekarang saya
bersedekah atas nama ibu saya yang sudah meninggal, apa pahalanya sampai kepada
beliau?”. Jawab Nabi, “Sampai.”
Dalam kesempatan lain Rasulullah juga mengatakan bahwa
bersedekah, berpuasa, dan haji untuk orang yang sudah meninggal juga boleh
dilakukan.
--- o ---
Melekers,
Di sini kita tidak akan membahas apakah berbuat baik untuk
orang yang sudah meninggal (yasinan dan tahlilan misalnya), pahalanya sampai atau tidak,
dan termasuk bid’ah atau bukan. Pembahasan ini sudah kuno dan tentu saja sudah
dibahas tuntas oleh guru-guru kita.
![]() |
| Apakah Mayit Bisa Mendengar? |
Dari beberapa kisah di atas, kita bisa mengambil kesimpulan
dan hikmah,
Apa saja yang dilakukan oleh kita yang masih hidup,
Amal baik atau buruk,
bisa bermanfaat atau bermudharat,
bisa memberi pengaruh baik atau buruk,
kepada orang yang sudah meninggal.
Amal baik atau buruk,
bisa bermanfaat atau bermudharat,
bisa memberi pengaruh baik atau buruk,
kepada orang yang sudah meninggal.
Oleh karena itu,
marilah berlomba-lomba untuk berbuat baik,
untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat,
dan orang tua, sesepuh, guru-guru kita yang sudah meninggal.
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia
menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana
saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari
kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah : 148)
Semoga bermanfaat
Sumber :
- 'Ibadurrohman Bachmid (Gus Ibad) Khadim di Yayasan Pondok Pesantren Nasruddin Dampit
- Motivasi Hari Ini
.jpg)


0 Response to "Apakah Mayit Bisa Mendengar?"
Post a Comment